Konflik AS-Israel-Iran Memasuki Hari Keempat: Serangan Meluas, Harga Minyak Melonjak, Trump Sebut “Gelombang Terbesar” Masih Akan Datang

Phnom Penh, 3 Maret 2026 — Perang terbuka antara Amerika Serikat bersama Israel melawan Iran memasuki hari keempat pada Selasa (3/3/2026), dengan serangan udara dan rudal terus berlangsung di beberapa negara Timur Tengah. Korban jiwa di Iran dilaporkan telah mencapai ratusan orang, sementara pembalasan Iran menyebabkan korban di kalangan militer AS dan sekutunya.
EPICTOTO

Menurut laporan Pentagon, setidaknya enam tentara AS tewas akibat serangan rudal dan drone Iran terhadap pangkalan militer di Kuwait dan wilayah Teluk lainnya. Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, juga menjadi sasaran drone Iran, menyebabkan kebakaran dan memaksa penutupan sementara. AS telah menutup dua kedutaannya di kawasan Teluk (termasuk di Arab Saudi dan Kuwait) serta mendesak warganya untuk segera meninggalkan 14 negara di Timur Tengah.

Israel melanjutkan serangan intensif terhadap target-target di Tehran, termasuk kantor kepresidenan Iran, serta melancarkan serangan baru di Beirut terhadap basis-basis Hizbullah. Militer Israel menyatakan pasukannya sedang maju di Lebanon selatan untuk menciptakan zona penyangga, sementara Hizbullah membalas dengan roket ke wilayah utara Israel. Setidaknya 31 orang tewas dalam serangan Israel di Beirut sejak akhir pekan lalu.

Iran, yang kehilangan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan awal pada 28 Februari, terus melancarkan serangan balasan ke berbagai negara. Rudal dan drone Iran dilaporkan mengenai sasaran di setidaknya 11 negara, termasuk Siprus di Eropa, serta fasilitas minyak di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Iran juga secara resmi menutup Selat Hormuz — jalur penting bagi 20-30% pasokan minyak dunia — yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga hampir dua kali lipat dalam beberapa hari terakhir. Harga saham global juga anjlok karena kekhawatiran akan gangguan energi berkepanjangan.

Presiden AS Donald Trump dalam pernyataannya kemarin menyatakan bahwa “gelombang terbesar” serangan terhadap Iran masih akan datang. Ia memperkirakan operasi militer bisa berlangsung 4–5 minggu atau bahkan lebih lama, dan tidak menutup kemungkinan pengiriman pasukan darat. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menambahkan bahwa “pukulan terkeras masih menanti” dari militer AS.

Sementara itu, Iran menolak segala tawaran negosiasi selama serangan berlangsung. Juru bicara militer Iran mengancam akan “membakar” kapal-kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz. Di sisi lain, badan pengawas nuklir PBB (IAEA) menyatakan belum menemukan kerusakan signifikan pada fasilitas nuklir Iran, meskipun Teheran mengklaim satu situs telah terkena serangan.

Konflik ini juga memicu reaksi global:

  • Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan peningkatan stok senjata nuklir negaranya dengan alasan “untuk bebas, kita harus ditakuti”.
  • Uni Eropa mempertimbangkan undangan kepada tokoh oposisi Iran untuk berbicara di Parlemen Eropa.
  • China mendesak negara-negara Teluk agar bersatu menghadapi “campur tangan eksternal”.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda de-eskalasi. PBB mendesak semua pihak menahan diri, sementara jutaan warga di kawasan Timur Tengah hidup dalam ketakutan akan perluasan perang yang semakin tidak terkendali.

(Sumber: Kompilasi laporan BBC, CNN, Al Jazeera, Reuters, The New York Times, dan sumber internasional lainnya per 3 Maret 2026)