Harga Emas Dunia Tertekan Sikap Hawkish The Fed, Emas Antam Turun ke Rp2,943 Juta per Gram

Jakarta, 19 Maret 2026 — Harga emas dunia mengalami tekanan cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir, seiring sikap hawkish (ketat) yang ditunjukkan Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat. Pada perdagangan hari ini, harga spot emas global bergerak di kisaran USD 4.614 – 4.863 per troy ounce, turun tajam dari level tertinggi sepanjang masa yang sempat disentuh di atas USD 5.600 pada awal tahun 2026.

Penurunan ini dipicu oleh pernyataan The Fed yang mempertahankan suku bunga stabil dan hanya memproyeksikan satu kali pemotongan suku bunga sepanjang tahun. Sikap tersebut membuat dolar AS menguat, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset safe haven yang tidak menghasilkan yield. Selain itu, beberapa investor institusional melakukan profit taking dan penyesuaian portofolio setelah reli harga emas yang sangat kuat sejak akhir 2025.

Meski demikian, emas masih mencatat kenaikan sekitar 58-68% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menunjukkan tren jangka panjang yang tetap bullish. Konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Iran dan sekutu Barat, serta permintaan bank sentral global yang masih tinggi, terus menjadi penopang utama harga emas.

Di pasar domestik Indonesia, harga emas batangan Antam ikut terdampak penurunan global. Berdasarkan data resmi Logam Mulia (19 Maret 2026 pukul 08.30 WIB):

  • Emas Antam 1 gram → Rp 2.943.000 (turun dari Rp 2.996.000 sehari sebelumnya)
  • Harga buyback → sekitar Rp 2.771.000 – 2.783.000 per gram (tergantung penyedia)

Produk lain seperti Galeri24 dan UBS juga menunjukkan penurunan serupa, dengan harga jual 1 gram berada di kisaran Rp 2.919.000 – 3.047.000.

Analis memprediksi harga emas masih berpotensi rebound dalam beberapa bulan ke depan. Beberapa lembaga seperti JP Morgan bahkan memproyeksikan harga bisa mencapai USD 6.000 – 6.300 per ounce pada akhir 2026, didorong oleh:

  • Permintaan bank sentral yang diprediksi mencapai 800 ton

  • Tren de-dolarisasi global

  • Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang berkelanjutan

Bagi investor ritel, kondisi ini dianggap sebagai peluang “buy on dip” (beli saat harga turun), terutama jika harga domestik turun mendekati Rp 2,7 – 2,8 juta per gram. Namun, volatilitas jangka pendek diperkirakan masih tinggi seiring menunggu data inflasi AS berikutnya dan perkembangan konflik regional.

Harga emas hari ini (19 Maret 2026) tetap menjadi salah satu yang tertinggi secara historis dalam rupiah, meski mengalami koreksi sementara. Bagi masyarakat yang hendak berinvestasi atau membeli perhiasan, disarankan memantau update harian dari sumber resmi seperti Pegadaian, Antam, atau platform terpercaya lainnya.